XAQHALA – Self Titled

Proses berkiprah berbalut konsistensi yang panjang telah dilalui oleh seorang Gerry Konaedi a.k.a Xaqhala atas dasar kecintaannya pada jalur musik Hip Hop. Single track ‘Nyamuk’ yang terbang liar dalam album kompilasi rap Indonesia (’95) dan ‘Aku Ingin Pergi’ (’98) yang dibawakan olehnya dalam format duo rap Boyz Got No Brain bersama dengan Rullionzo menjadi bagian dari kisah rangkaian trilogi Pesta Rap yang dibidani oleh Guest Music Production. Jejak langkah kolaborasi yang ditorehkannya dalam album penyanyi Melly Manuhutu dan proyek solo Doyz dari komunitas Indonesian under ground Hip Hop turut melengkapi dokumentasi eksistensi Xaqhala yang terus dipertahankan dan semakin memperkuat pencitraannya. Maka ketika martir Hip Hop sekelas Snoop Doggy Dog termasuk di dalam referensi yang direkomendasikannya, lansekap pesisir pantai barat negeri Paman Sam menjadi inspirasi dan suasana bunyi yang dihasilkan berpadu dengan beat yang menghentak, hal apakah yang patut diwaspadai mendekati detik-detik terakhir dimana daya eksplorasi Microphone Controller ibu kota ini menemukan muara kreatifitasnya dalam album solo pertama?

Intro ‘Jakarta Hip Hop’ jadi gerbang kronologis untuk masuk ke dalam dunia Xaqhala yang tak akan sekarat, menyimak track demi track yang terus meluncur dalam konteks ‘Kroniz’ yang naughty but playful, cerita tentang persahabatan yang ‘Termaniz’, representasi bentuk kekerabatan brotha’hood yang saling mendukung dan erat digenggam dalam komunitas Hip Hop, kontras dengan track yang menelanjangi si ‘Pengkhianat’, dan potret distorsi moral dalam ‘Meox City’ menguak sisi kritis Xaqhala yang sadar kotanya tengah bertransformasi menjadi rimba urban. Sampai di track andalan album ini, mendengarkannya bukanlah saat yang tepat untuk menumpah ruahkan kata cinta yang berkesan murahan, terlebih ketika sentuhan ala R & B dilengkapi oleh talenta Ru yang dilibatkan di lini vokal, ‘Hanya Dalam Angan’ terdengar tulus dan jujur, semanusiawi figur Xaqhala yang melangkah santai dengan lay back rappin’ stylenya saat memegang kendali dan tanggung jawab penuh dalam area yang memposisikan lirik sebagai senjata penggugah. Pada akhirnya, mereka yang mencoba membatasi fleksibilitas eksplorasi musikal yang dihadirkan sebagai frame pesan Xaqhala di dalam album ini menjadi kubu-kubu Hip Hop kutub Barat dan Timur akan terjebak dalam batasan yang kemudian dieliminasi dan diidentifikasi oleh Guest Music Production sebagai Indonesian Hip Hop. Check the lyrics out, mendengar nama-nama tempat yang jadi arena eksplorasi Xaqhala dalam realitas ibu kota, domisili di Cawang Atas, jalan Matraman, gang Lembaga dan bertemu copet di daerah Otista!

‘Berikan senyuman termanis, walau hidupmu serasa teriris’, hidup adalah drama perjuangan menggapai cita-cita dan Xaqhala mengajak para pendengar untuk selalu positif menyikapinya, langkah optimis yang membuahkan album pertamanya bernafaskan semangat Hip Hop yang diusungnya menyegarkan khasanah permusikan dalam derap dan putaran industri musik tanah air.